Friday, November 09, 2012

DT (58): Memahami Konflik



MEMAHAMI KONFLIK [1]

a.      Pendahuluan
Konflik adalah suatu keniscayaan sejarah. Jangankan antar manusia; antar gigi dan lidah saja, yang posisi dan fungsinya sudah sangat jelas, tetapi toh masih kerap dijumpai kasus lidah tergigit gigi. Karena konflik hanyalah merupakan fakta kehidupan, maka sesungguhnya konflik tidak terkait dengan persoalan baik dan buruk. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola konflik. Mengatasi konflik tidak sama dengan menghindari atau menekan konflik. Menangani konflik berarti menggunakan konflik itu dan mengelolanya sehingga kita memperoleh keuntungan dari konflik itu, dan meraih kesempatan untuk maju.
Agar berhasil dalam mengelola dan mengatasi konflik, kita perlu memahami konflik dengan baik. Memahami berarti mengerti atau mengetahui sesuatu secara mendalam. Memahami lebih dari sekedar mengetahui. Memahami mensyaratkan penguasaan detail suatu hal, seluk beluk, bahkan asal-usulnya.

b.      Persepsi dan Konflik
Orang memiliki perspektif berbeda-beda mengenai kehidupan dan berbagai permasalahannya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan dalam berbagai hal yang melatarbelakanginya, yaitu sejarah dan karakter masing-masing orang, jenis kelamin.
Berbagai indikator posisi dalam masyarakat ini seringkali memberikan makna bahwa orang seringkali menginginkan hal yang berbeda dari kondisi yang sama: kadang-kadang sasaran ini bertentangan, dan saling bertabrakan. Inilah yang disebut konflik.

c.      Konflik dan Kekerasan
Secara konseptual, konflik dibedakan dengan kekerasan. Konflik (conflict) adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, atau mereka menganggap memiliki tujuan yang bertentangan. Sedangkan kekerasan (violence) meliputi tindakan, kata-kata dan sikap, struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan fisik, psikis, dan lingkungan, dan/atau menutup kemungkinan orang untuk mengembangkan potensi.
d.      Tipe-Tipe Konflik: Bagaimana Menyikapinya
1)      Mengintesifkan Konflik (Intensifying Conflict)
Kadang-kadang diperlukan upaya untuk mengintesifkan konflik. Orang yang bekerja untuk pengembangan masyarakat dan hak-hak kemanusiaan seringkali bekerja bukan untuk mengatasi konflik, melainkan untuk mengintensifkan konflik, yakni membuat konflik menjadi tampak nyata, sehingga mencapai titik di mana masalah itu diakui secara luas dan tindakan tertentu perlu untuk dilakukan. Upaya semacam ini adalah untuk pembelaan masyarakat yang tidak diuntungkan dan menggunakan strategi pemberdayaan. Sebagai contoh, adalah apa yang dilakukan oleh para aktivis yang bekerja untuk perubahan, yang berupaya keras untuk membuat konflik yang tersembunyi, latent, menjadi terbuka sehingga dapat disaksikan dan diatasi.

Oleh karena itu, berkaitan dengan konflik, ada dua macam situasi konflik, yaitu intensifying conflict dan escalating conflict. Intensifying conflict adalah upaya membuat konflik yang tersembunyi menjadi tampak dan terbuka, untuk tujuan yang baik dan penyelesaian masalah, dan escalating conflict adalah kondisi ketika level tekanan dan kekerasan meningkat

2)      Menekan Konflik (Suppressing Conflict)
Suatu konflik yang ditekan akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Konflik sendiri dapat dipandang sebagai masalah dan dapat pula dipandang sebagai solusi. Konflik dapat menjadi kekerasan apabila:
·         Terdapat saluran yang tidak tepat untuk melakukan dialog dan ketidaksepakatan.
·         Suara-suara ketidaksepakatan dan keluhan yang tidak dapat didengar atau dibahas.
·         Terjadi ketidakstabilan, ketidakadilan, ketakutan dalam komunitas dan masyarakat luas.

e.      Berbagai Pendekatan Yang Berbeda Dalam Mengatasi Konflik
Typologi dalam mendeskripsikan pendekatan menangani konflik yaitu:
1)      Pencegahan Konflik (Conflict Prevention) berupaya mencegah pecahnya konflik kekerasan (violent conflict).
2)      Penanganan Konflik (Conflict Settlement) berupaya untuk mengakhiri tingkah laku kekerasan dengan mencapai kesepakatan perdamaian.
3)      Manajemen Konflik (Conflict Management) bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan yang mungkin terjadi di waktu yang akan datang dengan cara mendukung perubahan tingkah laku yang positif pada pihak-pihak yang terlibat.
4)      Resolusi Konflik (Conflict Resolution) membahas berbagai penyebab konflik dan mencoba untuk membangun hubungan baru dan abadi di antara kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.
5)       Transformasi Konflik (Conflict Transformation) membahas sumber politik dan sosial yang lebih luas dari suatu konflik dan mencoba untuk mentransformasikan energi negatif peperangan menjadi perubahan sosial dan politik yang bersifat positif.


f.       Faktor Penyebab Konflik
Terjadinya sebuah konflik disebabkan oleh berbagai faktor. Berbagai faktor penyebab konflik itu dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:
1)      Triggers (pemicu): peristiwa yang memicu sebuah konflik namun tidak diperlukan dan tidak cukup memadai untuk menjelaskan konflik itu sendiri.
2)      Pivotal factors or root causes (faktor inti atau penyebab dasar): terletak pada akara konflik yang perlu ditangani supaya pada akhirnya dapat mengatasi konflik.
3)      Mobilizing factors (faktor yang memobilisasi): masalah-masalah yang memobilisasi kelompok untuk melakukan tindakan kekerasan.
4)      Aggravating factors (faktor yang memperburuk): faktor yang memberikan tambahan pada mobilizing factors dan pivotal factors, namun tidak cukup untuk menimbulkan konflik itu sendiri.

g.      Teori-Teori Penyebab Konflik
Teori-teori besar tentang penyebab konflik, yang masing-masing menunjuk pada metode dan sasaran yang berbeda, yaitu:
1)      Teori Hubungan Komunitas (Community Relations Theory)
Teori ini mengansumsikan bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi, ketidakpercayaan, dan permusuhan antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam suatu komunitas. Sasaran kerja yang didasarkan pada teori hubungan komunitas adalah:
Ø  Untuk memperbaiki komunikasi dan pemahaman di antara kelompok yang bertentangan.
Ø  Untuk mendukung toleransi yang lebih besar dan penerimaan keragaman dalam masyarakat.
2)      Teori Negosiasi Utama (Pricipled Negosiation Theory)
Teori ini mengansumsikan bahwa konflik disebabkan oleh posisi yang tidak tepat serta pandangan tentang ‘zero-sum’ mengenai konflik yang diadopsi oleh kelompok yang bertentangan. Sasaran kerja yang didasarkan pada teori negosiasi utama adalah:
Ø  Membantu kelompok-kelompok yang bertentangan untuk memisahkan pribadi dari masalah dan persoalan, dan untuk mampu melakukan negosiasi atas dasar kepentingan mereka dan bukan atas dasar posisi mereka.
Ø  Memfasilitasi kesepakatan yang menawarkan keuntungan bersama bagi kedua atau semua kelompok.

3)      Teori Kebutuhan Manusia (Human Needs Theory)
Teori ini mengansumsikan bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia - fisik, psikologis, dan sosial- yang tidak terpenuhi atau dikecewakan. Keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi seringkali disebut pula sebagai kebutuhan manusia. Sasaran kerja yang didasarkan pada teori kebutuhan manusia adalah:
Ø  Membantu pihak-pihak yang berkonflik untuk mengidentifikasi, dan menyampaikan kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan memunculkan berbagai pilihan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Ø  Bagi pihak-pihak tersebut agar mencapai kesepakatan tentang kebutuhan identitas penting bagi semua pihak.

4)      Teori Identitas (Identity Theory)
Teori ini mengansumsikan bahwa konflik disebabkan oleh perasaan akan adanya identitas yang terancam. Perasaan semacam ini muncul karena perasaan kehilangan dan penderitaan masa lalu yang tidak terselesaikan. Sasaran kerja yang didasarkan pada teori identitas ini adalah:
Ø  Workshop dan dialog yang difasilitasi bagi pihak-pihak yang berkonflik untuk tujuan mengidentifikasi ancaman dan ketakutan yang mereka rasakan serta untuk membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka.
Ø  Bersama-sama mencapai kesepakatan untuk mengenai kebutuhan identitas semua pihak.

5)      Teori Miskomunikasi Antar Budaya (Intercultural Miscommunication Theory)
Teori ini mengansumsikan bahwa konflik disebabkan oleh pertentangan antar gaya komunikasi antar budaya yang berbeda. Sasaran kerja yang didasarkan pada teori miskomunikasi antar budaya ini adalah:
Ø  Meningkatkan pengetahuan masing-masing pihak yang terlibat konflik mengenai budaya masing-masing.
Ø  Memperlemah stereotype negatif dari masing-masing pihak.
Ø  Meningkatkan komunikasi antar budaya yang efektif.

6)      Teori Transformasi Konflik (Conflick Transformation Theory)
Teori ini mengansumsikan bahwa konflik disebabkan oleh persoalan nyata berupa ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang ditunjukkan oleh kerangka kerja sosial, budaya, dan ekonomi yang saling bersaingan.
Sasaran kerja yang didasarkan pada teori transformasi konflik ini adalah:
Ø  Mengubah struktur dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, termasuk redistribusi ekonomi.
Ø  Memperbaiki hubungan jangka panjang dan sikap di antara pihak-pihak yang terlibat konflik.
Ø  Mengembangkan proses dan sistem yang mendukung pemberdayaan, keadilan, perdamaian, maaf, rekonsiliasi, dan pengakuan.



[1] Resume buku Mengelola Konflik Membangun Damai oleh Sholihan (2007)

No comments:

Cboxs

Pageviews past week